Setelah sebelumnya saya membuat tulisan tentang celah keamanan sistem parkir ISS, kali ini saya akan membahas tentang keanehan tarif parkir perusahaan yang menyatakan dirinya sebagai solusi layanan terpadu (Integrated Service Solution/ISS) di ITB. Seperti pada parkiran ISS kampus lain, seperti Unpad, tarif parkir di ITB pun tidak semahal tarif ISS di mall-mall. Tarif parkir yang berlaku untuk parkir motor adalah Rp 1000/hari dan mobil Rp 2000/hari, sekilas tidak berbeda dari pada tarif dari pengelola parkir sebelumnya, yakni Rp 1000/sekali masuk untuk motor dan Rp 2000/sekali masuk untuk mobil. Berikut adalah foto papan tulisan tarif parkir ISS (di ITB) yang saya ambil.
Bisa kita lihat dan kita definisikan bahwa 1 hari itu 24 jam. Artinya, tarif Rp 1000 untuk motor dan Rp 2000 untuk mobil itu berlaku untuk parkir selama 24 jam. Namun, kenyataannya tidak seperti itu. Sistem parkir ISS mendefinisikan ‘per hari’ adalah parkir di hari yang sama, artinya jika sudah lewat jam 12 malam dihitung sudah lewat 1 hari, bahkan bila kita hanya parkir kurang dari 10 menit.
Setahun lalu (Maksudnya di akhir Desember 2010) saya pernah menginap di kampus, saya memasukkan motor saya pada tanggal 27/12/2010 pukul 16:18:56, lalu besoknya (28/12/2010) saya pulang pukul 06:20:06. Jika dihitung durasinya, saya parkir selama sekitar 14 jam 1 menit 6 detik (Sesuai dengan yang tertera di tiket) yang masih kurang dari 24 jam. Saya berpikir saya hanya perlu bayar Rp 1000. Namun, sistem ISS menunjukkan saya harus bayar Rp 2000. Saat itu saya pun protes ke penjaga box ISS, “Kenapa 2 ribu mbak, kan belum 24 jam?”. Lalu penjaga itu menjawab, “Waduh ga tau yah, ini ditunjukinnya segitu, tadi aja yang parkir motor 9 jam juga bayarnya 2 ribu kok”. Petugas parkir ISS yang lain mengatakan bahwa tarif parkir per hari maksudnya adalah tarif parkir untuk 1 hari yang sama. Berikut adalah hasil foto tiket yang dimaksud.
Yah, memamng para petugas parkir tidak tahu apa-apa dan tidak salah, hanya sistem ISS nya saja yang agak aneh. Kenapa aneh? Saya memiliki beberapa alasan untuk mengatakan hal itu. Pertama, sistem parkir ISS (katanya) dinyatakan lebih profesional dari yang sebelumnya, tapi di sini mereka (ISS) tidak menerapkan sistem yang adil. Misalnya, orang yang memarkirkan motornya pada jam setengah 12 malam (pukul 23.30) dan keluar pada jam setengah 1 dini hari (pukul 00.30), untuk parkir motor selama 1 jam itu dia akan dikenakan tarif sebesar Rp 2000. Namun, orang yang memarkirkan motornya dari jam setengah 1 dini hari (pukul 00.30) hingga jam setengah 12 malam (pukul 23.30), dia akan dikenakan tarif parkir hanya sebesar Rp 1000, padahal dia memarkirkan motornya 23 kali lebih lama dari orang sebelumnya yaitu selama 23 jam. Secara ekstrimnya, orang yang parkir selama 2 menit (23.59 - 00.01) harus bayar lebih mahal dari pada orang yang parkir selama 23 jam 58 menit (00.01 - 23.59).
Oia, salah satu teman saya, Kemod, pernah mengalami keluar dari parkiran tepat pada pukul 00.01 WIISS (Waktu Indonesia ISS). Saat itu, ia harus bayar Rp 2000 padahal baru parkir beberapa jam (tentu saja masih kurang dari 24 jam). Yah tentu saja teman saya itu sedikit marah-marah dulu sebelum membayar Rp 2000 itu. Tentu saja bukan masalah Rp 1000 tambahan yang jadi penyebab kemarahannya itu, tapi keanehan atau ketidakadilan sistem tarif yang diterapkan ISS tersebut. Padahal, waktu 1 menit tersebut bisa saja disebabkan oleh antrian atau kelambatan (baik disengaja ataupun tidak disengaja) operator dalam me-scan tiket parkir. Terlebih, standar waktu yang digunakan oleh ISS (WIISS) tidak diketahui oleh pengguna parkir, masa sampai harus menghubungi 103 dari telepon rumah untuk mengetahui jam dan waktu yang terstandar. Sebagai bandingan, pengelola parkir di Gramedia (Jl. Merdeka) menerapkan kebijakan toleransi selama 5 menit yang mungkin untuk mengantisipasi efek antrian atau lainnya, dan tentu saja pengelola parkir itu bukan ISS parking.
Kedua, ISS tidak konsisten dengan terminologi “per hari” nya. Bila kita lihat tarif parkir ISS di tempat lain, misal parkir ISS di MTC, BTC, atau area komersial lainnya. Tarif yang berlaku misalnya untuk motor adalah Rp 1000/jam. “Per jam” di sini didefinisikan sebagai “per 60 menit” atau “per 3600 detik”, bukan memiliki arti “pada jam yang sama”. Jika kita parkir motor di sistem parkir ISS lain yang bertarif Rp 1000/jam misalnya, kita masuk pukul 09.45 dan keluar pukul 10.15, durasi parkir kita akan dihitung selama 30 menit (masih tarif untuk 1 jam), bukan parkir selama 2 jam (karena sudah jam yang berbeda, jam 9 dan jam 10). Terminologi tarif “per hari” ISS tidak konsisten, saya tidak tahu apakah karena sistem informasi ISS (di ITB terutama) hanya mampu memperhitungkan tarif seperti ini atau ada keinginan untuk meraup keuntungan yang lebih besar lagi. Pertimbangan keamanan malam hari pun tidak cukup logis, karena (pada contoh di atas) pengendara yang parkir selama 23 jam tetap saja membutuhkan perhatian lebih karena parkir selama 12 jam di siang hari dan 10 jam pada malam hari, terlebih ISS kan tidak bertanggung jawab terhadap kehilangan kendaraan, helm, dsb.
Ketiga (dan terakhir mungkin menurut saya), jika tidak ada masalah dengan inkonsistensi terminologi “per hari” ISS, dan tarif parkir ISS di ITB yang “per hari” memang memiliki arti “untuk 1 hari yang sama, yakni pukul 00.00 hingga 23.59”, seharusnya para pemarkir kendaraan bebas memasukkan dan mengeluarkan kendaraannya pada hari itu. Mengapa? Sebagai contoh, tarif parkir motor adalah Rp 1000/hari, artinya Rp 1000 untuk parkir pada 1 hari yang sama. Seharusnya, bila ada mahasiswa yang memarkirkan motornya pada hari yang sama, jika dia ingin pergi keluar area kampus misalnya untuk fotocopy atau apapun dengan menggunakan motornya, dia tidak perlu membayar parkir lagi pada hari itu. Jadi pengguna parkir bebas keluar-masuk area parkir pada hari yang sama dengan hanya membayar tarif 1 hari, kan katanya berlaku untuk parkir pada hari yang sama.
Secara singkatnya, ketentuan tarif “per hari” tersebut menimbulkan perbedaan persepsi sehingga menimbulkan kesan pembodohan konsumen untuk mendapatkan keuntungan lebih. Jika dipandang secara obyektif, yakni menggunakan preferensi eksternal dalam memandang (dalam hal ini tarif di parkir ISS lain), seharusnya tarif “per hari” itu adalah tarif “per 24 jam”. Namun, di sini justru sistem ISS nya sendiri yang menyangkalnya dan membuat definisi baru tarif “per hari” berarti tarif parkir “pada satu hari yang sama”. Di sini, sistem ISS masih juga melanggarnya, seharusnya tarif parkir tersebut membolehkan (dengan gratis) pengguna parkir untuk bolak-balik, hehe. Selain itu, jika definisi “per hari” adalah pada 1 hari yang sama, berarti seharusnya sekarang kontrak ISS telah habis. Kontrak pengelolaan parkir dilakukan dalam jangka waktu per 1 tahun. Jika definisi “per tahun” adalah pada 1 tahun yang sama, maka kontrak ISS telah habis dan perlu dilakkan peninjauan (perpanjangan atau tidak), karena tahun sekarang (2011) sudah berbeda dengan tahun ketika kontrak ISS dimulai (2010). Sudah 1 tahun, jika menurut definisi ISS, hehe.
Bagi teman-teman sesama pengguna parkir ISS, semoga tulisan ini bisa memberikan sedikit wawasan yang mungkin kalian juga sebenarnya sudah mengetahuinya. Semoga kita bisa terus menjadi konsumen semakin cerdas.
Bagi manajemen ISS atau pihak berwenang yang barangkali membaca, semoga tulisan ini bisa menjadi masukan agar sistem perparkiran di ITB semakin baik lagi. Mahasiswa semakin nyaman dengan kampus dan pemerintahan kampusnya, sehingga memberikan dampak positf bagi ITB sendiri. Jika sistem informasi yang menjadi masalah sehingga tidak bisa menghitung tarif berdasarkan durasi parkir untuk hari yang berbeda, saya yakin banyak teman-teman mahasiswa atau alumni yang bisa melakukan perbaikan hal itu. Tapi sebenarnya saya yakin alasannya bukan itu. Harus sampai dengan cara beginikah bagi ISS untuk mendapat tambahan pemasukan? Mengingat tarif yang diterapkan di ITB ini jauh lebih murah dibandingkan tarif yang diterapkan ISS di area komersial biasanya. Yah, tapi kan ITB bukan area komersial, kami ke kampus untuk belajar, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
“Jika konsumen adalah raja,
Maka industri adalah kasparov..”
(HOMICIDE)
(Source: mozuqi.wordpress.com)









mozuqi @tumblr
mozuqi @facebook
mozuqi @kaskus